PELEPASAN ARIE SUTANTO DIIRINGI DENGAN TETESAN AIR MATA


Kamis, 13 Oktober 2011 diruang sidang Pengadilan Agama Larantuka diadakan pelepasan atau perpisahan dengan sdr Arie Sutanto, S.HI. Acara pelepasan ini dihadiri oleh seluruh pegawai Pengadilan Agama Larantuka mulai dari hakim, pejabat fungsional lainnya, pejabat structural dan staf serta ibu-ibu Dharmma Yukti Karini Cabang Pengadilan Agama Larantuka.

Dalam kata-kata perpisahannya Arie menyampaikan ucapan terima kasih banyak kepada Bpk Ketua , para hakim dan pansek serta yang lainnya, karena ditempat inilah pertama kali saya dididik, dibina untuk menjadi CPNS sampai dengan PNS. Walaupun baru 1,6 tahun saya bekerja disini lanjutnya tetapi saya sudah merasa kerasan karena banyak sekali pengalaman yang saya peroleh lebih-lebih masukan-masukan dan nasehat dari bpk ketua. Dengan suara yang bergetar karena menahan isak tangisnya Arie meneruskan ucapannya “ Terima kasih banyak bapak ketua semoga nasehat bapak tetap saya ingat dimana saja saya bertugas. Terima kasih bapak-bapak hakim, pansek, wapan, wasek dan teman-teman lainnya atas bimbingannya selama ini. Demikian pula ibu-ibu dharma Yukti Karini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena selama saya bertugas di Larantuka saya tidak pernah membawa isteri saya. Hal ini bukan saya sengaja atau tidak mau tetapi karena isteri saya juga seorang PNS sehingga waktu yang tepat untuk itu belum ada “.
Selanjutnya masih dengan menahan isak tangisnya, Arie menyampaikan bahwa saya sebagai manusia biasa tentu tidak pernah luput dari kesalahan dan kekhilafan baik itu saya sengaja atau tidak. Oleh karena itu sebelum saya meninggalkan tempat ini………(suaranya terputus karena tidak tahan menahan cucuran air matanya), saya………..(lagi-lagi Arie tidak dapat meneruskan kata-katanya), tinggalkan tempat pertama dimana saya dibina dan dididik, maka dari lubuk hati saya yang dalam saya mohon untuk dimaafkan. Demikian Arie mengakhiri kata-katanya.

Permohonan maaf sdr Arie yang tulus ini membuat semua pegawai tertunduk dan meneteskan air mata, lebih-lebih ibu-ibu dharma Yukti Karini yang tidak dapat membendung cucuran air mata mereka. Yah…kita tahu semua bahwa sdr Arie Sutanto adalah sosok seorang pegawai yang tidak pernah marah, demikian kata-kata pertama yang disampaikan Samsudin, S.Ag (Pansek) ketika mewakili pegawai Pengadilan Agama Larantuka. Menurut penilaian saya beliau adalah pegawai yang mempunyai type bekerja. Hal ini terlihat dari tugas-tugas yang dibebankan kepadanya selalu dilaksanakan dan diselesaikan dengan baik. Harapan saya lanjutnya, semua yang saudara dapat disini (PA.Larantuka) apabila itu baik silahkan dipraktekkan ditempat tugas yang baru, tetapi apabila tidak baik maka cukup dibuang sebelum melangkahkan kaki saudara ketika menaiki tangga pesawat.” Tambahnya”.

Muhamad Camuda, Ketua PA. Larantuka, dalam sambutannya mengatakan bahwa sekarang kita kehilangan lagi satu tenaga yang produktif karena dengan kepergian saudara Arie, berarti kita kekurangan lagi tenaga administrasi di Kepaniteraan. Tetapi apa hendak dikata, kepergian sdr Arie bukan atas kemauan kita, tetapi atas penilaian PTA Kupang. Hal ini tentunya menurut PTA Kupang sdr Arie memiliki kapabalitas dan integritas sehingga ia dipromosikan untuk menjadi Kaur Umum di Pengadilan Agama Atambua. Ini satu hal yang perlu saudara syukuri lanjutnya, karena dalam waktu yang singkat sdr telah menduduki jabatan eselon V. Namun harapan saya kata Muhamad Camuda, jangan bangga dengan jabatan yang saudara emban, jabatan adalah amanah dimana saudara harus mempertanggungjawabkan jabatan itu, baik kepada atasan saudara lebih-lebih kepada Allah swt. Oleh karena itu saudara harus tunjukkan bahwa saudara memiliki kapabalitas yaitu mampu bekerja dan mengetahui serta mengetahui tupoksi saudara. Demikian pula integritas saudara,demikian harapan Muhamad Camuda.
Lebih jauh Camuda menyampaikan bahwa “selaku pimpinan Pengadilan Agama Larantuka dan atas nama pribadi saya juga mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam kurun waktu 1,6 tahun ini ada kata-kata, tindakan saya yang menyakiti saudara, tapi yakinlah semua yang saya lakukan semata-mata hanya membina saja”. Beliau mencontohkan bahwa kita warga pengadilan agama larantuka tidak ubahnya seperti satu keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, kakak dan adik. Apabila ada anak yang pulang terlambat ke rumah, tentu sebagai bapak pasti akan memarahinya. Kemarahan bapak disini jangan ditafsirkan bahwa bapak tidak senang dengan anak, tetapi justru karena sayangnya bapak sehingga bapak melakukan hal itu.

Akhirnya dengan memohon rahmat, taufiq dan hidayah Allah, saya melepas saudara Arie Sutanto, S.HI dengan resmi, semoga saudara selamat sampai tujuan dan bekerja dengan sebaik-baiknya. Demikian Camuda mengakhiri sambutannya.
Acara perpisahan ini kemudian ditutup dengan do’a oleh bapak Drs. Muhammad Arsyad Ratuloly dan dilanjutkan dengan pemberian cendera mata dan ramah tamah. ( IT Lrt)